Sunday, April 25, 2004

Masih catatan dulu ..

Saat membuka buku catatan dulu
aku temukan sebuah bait yang sangat indah
bukan tulisanku tapi...
aku ingat pernah meminjamkannya pada seorang teman
tapi tak apalah, yang paling penting adalah keindahan bait itu
dan sejauh mana kita menghayatinya dan mencoba melakukannya
Bukan siapa yang mengeluarkannya ..

Tertawan Cinta

Ya Alloh
Jika cinta adalah ketertawanan
Maka tawanlah aku dengan cintaMu
Agar tak ada lagi yang menawanku

Ya Alloh
Jika rindu adalah rasa sakit yang tidak menemukan muaranya
Maka jadikanlah rasa sakitku dengan rindu kepadaMu
Dan jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuan denganMu

Jadikanlah hatiku untuk satu cinta
Yaitu cinta kepadamu Ya Robb
Jika aku tidak dapat mengisinya dengan cinta kepadaMu
Kemanakah wajahku hendak aku sembunyikan

Cinta itu laksana pohon dalam hati

Akarnya adalah ketundukkan kepada Kekasih yang dicintai.
Dahannya adalah mengenalNya dengan sepenuh hati.
Rantingnya adalah malu kepadaNya.
Buah yang dihasilkannya adalah ketaatan kepadaNya.
Air yang menghidupinya adalah menyebut namaNya.

Kekasih itu tak lain adalah Alloh SWT.
Dialah sang Kekasih yang tak pernah mengecewakan orang yang mencintaiNya.
Dialah yang selalu membalas cinta dengan cinta yang lebih besar.
Dialah yang Maha sempurna dan Maha Agung cintaNya.


Catatan dulu

Membuka kembali buku catatan dulu,
mencermati tiap kata demi kata, titik demi titik
mengingatkanku akan masa lalu yang indah
yang belum dipenuhi garam kehidupan yang kadang menyesatkan
sungguh damai kala itu ..
ingin rasanya kembali ke masa lalu, tapi siapa bisa ..???

hanya catatan didalamnya yang bisa mengantarkanku
untuk kembali merasakannya
menghayati tiap coretan didalamnya
bisa sedikit membasuh kembali muka yang lusuh karena zaman
menghadirkan kekuatan baru untuk terus berjuang di JalanNya.

Refresh your Life ...

Sedikit cerita ..

Cerita kemarin yang takkan kulupa
Terbukanya jiwa dan kekuatan terjaga
Disaatsaat sebuah keheningan menghampiri
Yang sebelumnya aku lalui sesuatu seperti mimpi

Begini ceritanya ...
Saat itu mentari tersenyum padaku
seperti biasanya memberikan kehangatan baru
menambah keindahan sang embun dengan cahayanya
harmonis antara keduanya

Seperti biasa akupun melangkah
menjalani awalan yang terus ku ulangi tiap hari
merasa hidup kembali dari sebuah kehidupan
itulah yang selalu ingin kurasakan

Damainya hari ini, optimis aku junjung tinggi
aku ingin hari ini berbeda, lebih baik dari kemarin pagi
menunjukkan keceriaanku, kesungguhanku pada yang lain
akupun hatihati, takut menyakiti hati

Sedikit demi sedikit, hatihati, pelan, ups....
yah begitu...itu baru bagus
bagus untukmu, juga bagus untuk yang lain
Indahnya kebersamaan

Sampai datangnya saat yang lain
sedikit demi sedikit, hatihati, pelan, yahhh !!! ...
padahal aku sudah hatihati, sedikitpun tak menyakiti
mungkin caraku masih salah, atau disalah arti ??
akupun tak mengerti, kenapa begini
Setelah semua itu terjadi
Dan diapun pergi ...

Mengapa ?
oh.. aku mengerti !!!
tapi sampai saat ini aku belum punya jawaban berarti
setelah aku bisa mengerti, apakah yang lain ?
selain waktu, adakah hal lain yang bisa menjawabnya ?

Oh.. aku mengerti !!!
Hal itu akan selalu kusimpan dalam memori
akan jadi sebuah pelajaran hidup
bagiku, untuk nanti kubawa mati

Untuk satu kekuatan

Dalam kesendirian Engkau hadirkan rindu
Dalam kerinduan Engkau hadirkan harapan
Dalam pengharapan Engkau hadirkan Keindahan
Dalam keindahan Engkau menjadikanku kuat

Ketika masalah menjadi bagian naskah
Engkau datangkan solusi berbagai langkah
Engkau hiasi penuh rambu agar jalanku tetap terarah
Meskipun aku berjalan dengan terpatah

Monday, March 22, 2004

Berpikir tentang Diri

menjadi bintang itu sulit
setiap malam berjaga
menanti sang mentari
menunggui dirimu

menjadi mentari itu sulit
setiap hari menaungi
menanti sang bintang
melayani dirimu

namun jangan pernah terlena
ataupun menjadi bangga
diantara manusia dunia
seolah dimanja sang kuasa

Jangan kau sangka
keenakan dunia semata
membawa suatu bahagia baqa
itu hanyalah rangkaian mimpi dikala senja

Jangan kau pikir dirimu terbebas
dari utuhnya sebuah tugas
sesungguhnya setiap tarikan nafas
tanggungjawab takkan lepas

Untuk kau renungkan :
"Sesungguhnya tugasmu didunia lebih berat daripada kesetiaan sang bintang dan kemurahan sang mentari."